In Ulasan Buku

Ulasan Buku : Sang Alkemis

 


Tajuk: Sang Alkemis (versi terjemahan Bahasa Indonesia)
Penulis: Paulo Coelho
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tema: Pengembaraan, fantasi, spiritual
Bil. Muka surat: 215

Ringkasan plot (**Spoiler Alert!)
Suara hati tak pernah menyesatkan manusia daripada haluan takdir yang tertulis untuknya. Begitulah Santiago yang percaya bahawa dia perlu meninggalkan pekerjaan sebagai pengembala kambing untuk menjejaki harta karunnya di Piramid seperti yang terlihat di dalam mimpi.

Berbekalkan batu Urim dan Tumim pemberian Raja Tua, Santiago memulakan perjalanan menuju Mesir disusuli berbagai ujian getir. Di kota Tangier, dia ditipu hingga terpaksa bekerja di sebuah kedai kristal demi meneruskan hidup. Kemudian dia meneruskan perjalanan merentasi gurun Sahara dengan menyertai sebuah rombongan karavan. Akibat peperangan antara puak yang sedang terjadi di gurun itu, mereka terpaksa berhenti dan berlindung di oasis buat sementara waktu.

Di oasis itu Santiago mengenali Fatima. Mereka jatuh cinta dan Santiago berasa berat hati untuk meninggalkan wanita itu. Dia berkira-kira untuk tinggal di oasis tersebut dan melupakan sahaja impiannya untuk menjejaki Piramid. Walau bagaimanapun, pertemuan dengan Sang Alkemis telah meluruskan kembali matlamat Santiago. Bersama-sama Sang Alkemis, Santiago meneruskan perjalanan menuju Mesir. Namun, belum jauh mereka berjalan, mereka ditangkap puak militer dan dituduh sebagai pengintip musuh. Ketika nyawanya sedang berada di hujung mata pedang, Santiago berjaya mencipta keajaiban berbekalkan pesanan hikmat daripada Sang Alkemis. Pesanan yang tak masuk akal tetapi berjaya menggegarkan cakerawala.

Santiago akhirnya berjaya sampai ke Piramid. Dia menggali harta karun seperti yang dilihat di dalam mimpinya tetapi 'harta karun' yang ditemui jauh berbeza drp sangkaannya. Dia ditertawakan pengembara lain yg ditimpa nasib sama. Namun, setelah mendengar cerita-cerita pengembara tersebut, Santiago mengerti apa dan di mana letaknya harta karun yang sebenar. Dia berasa puas dan segera bergegas mendapatkan harta karunnya itu.

Komen dan Ulasan
Masha-Allah tak tergambar dengan kata-kata betapa hebatnya karya ni! Fahamlah saya kenapa Sang Alkemis sering disebut-sebut sebagai antara karya terbaik sepanjang zaman. Cerita ni menggabungkan falsafah kehidupan dengan elemen fantasi, sains, sejarah dan agama. Jalan ceritanya straight forward & mudah difahami tapi apa yang tersirat di sebalik tersurat tu memang betul-betul meresap jauh ke dalam hati nurani. Kita semua adalah Santiago, atau pernah menjadi Santiago. Kita punya mimpi tapi kita takut untuk keluar daripada comfort zone untuk capai mimpi tersebut.

Cerita ni tak sedih pun, tapi banyak kali saya mengalirkan air mata. Cerita ni mengingatkan saya bahawa 'tak semua org yang sedang berkeliaran itu tersesat'. Not all those who wander are lost. Tak kira berapa lama atau berapa jauh, kita pasti akan tiba juga di destinasi yang kita impikan asalkan kita terus percaya dan berjuang.

Jujur cakap, Sang Alkemis antara karya terbaik saya pernah baca. Easily one of my all-time favs. Dah selamat ulang baca buat kali kedua dah pun.

Sekian, semoga bermanfaat.

Memorable quotes
Dia menyedadari, dia merasakan sesuatu yang belum pernah dialaminya: hasrat untuk menetap di satu tempat, selama-lamanya. Bersama gadis berambut hitam kelam ini, hari-harinya takkan pernah sama lagi.
(Muka surat 13)

Itulah daya tarik berkelana baginya - dia selalu mendapatkan teman-teman baru, dan dia tidak perlu bersama-sama mereka sepanjang waktu. Kalau kita bergaul dengan orang-orang yang sama setiap hari, seperti yang dialaminya di seminari, pada akhirnya kita menjadi bahagian dari hidup orang itu. Lalu kita ingin orang itu berubah. Kalau orang itu tidak seperti yang dikehendaki orang-orang lain, maka orang-orang lain ini menjadi marah. Orang tampaknya selalu merasa lebih tahu, bagaimana orang lain seharusnya menjalani hidup, tapi mereka tidak tahu bagaimana seharusnya menjalani hidup sendiri.
(Muka surat 25)

Fikirnya, kalau dia menjadi penulis, dia akan menampilkan tokokh-tokohnya satu per satu sahaja, sehingga pembacanya tidak perlu mengingat-ingat begitu banyak nama.
(Muka surat 26)

Isi buku ini sama dengan isi hampir semua buku lain di dunia. Dalam buku ini digambarkan ketidakmampuan orang memilih takdir mereka sendiri. Dan pada akhirnya dikatakan bahawa setiap orang percaya akan dusta terbesar di dunia - bahawa pada satu titik dalam hidup kita, kita kehilangan kendali atas apa yang terjadi pada kita, dan hidup kita jadi dikendalikan oleh nasib. Demikianlah dusta terbesar itu.
(Muka surat 28)

Takdir adalah apa yang selalu ingin kau capai. Semua orang, ketika masih muda, tahu takdir mereka. Pada titik kehidupan itu, segalanya jelas, segalanya mungkin. Mereka tidak takut bermimpi, mendambakan segala yang mereka inginkan terwujud dalam hidup mereka. Tapi dengan berlalunya waktu, ada daya misterius yang mulai meyakinkan mereka bahawa mustahil mereka bisa mewujudkan takdir itu.
(Muka surat 32)

Ada satu kebenaran mahabesar di planet ini : siapa pun dirimu, apa pun yang kau lakukan, kalau engkau sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, itu kerana hasrat tersebut bersumber dari jiwa jagat raya. Itulah misimu di dunia ini.
(Muka surat 32)

Satu-satunya kewajipan sejati manusia adalah mewujudkan takdirnya.
(Muka surat 33)

Dan saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membantumu meraihnya.
(Muka surat 33)

Kalau kau memulai dengan menjanjikan sesuatu yang belum kau miliki, kau akan kehilangan hasratmu untuk berusaha memperolehnya.
(Muka surat 36)

Tapi pokoknya, syukurlah kau sudah belajar bahawa segala sesuatu di dunia ini ada harganya.
(Muka surat 36)

Kalau setiap hari terasa sama saja, itu kerana orang-orang tidak menyedari hal-hal indah yang terjadi dalam hidup mereka setiap hari.
(Muka surat 39)

Si anak lelaki merasa iri pada angin yang bertiup bebas, namun disedarinya dia pun bisa sebebas angin. Tak ada yang menahannya, kecuali dirinya sendiri.
(Muka surat 40)

Tapi aku seperti orang-orang pada umumnya - hanya melihat apa yang ingin kulihat, bukan apa yang sebenarnya terjadi.
(Muka surat 56)

Pasti ada bahasa yang tidak bergantung pada kata-kata. Seperti ketika aku berkomunikasi dengan domba-dombaku, dan sekarang aku mengalaminya dengan manusia.
(Muka surat 60)

Dia telah mendapatkan banyak pelajaran baru. Beberapa sudah pernah dialaminya, jadi tidak benar-benar baru, hanya saja sebelumnya dia tidak menyedarinya. Dan dia tidak menyedarinya kerana hal-hal tersebut sudah terlalu biasa dialaminya. Dia pun sedar : Kalau aku bisa belajar memahami bahasa yang tidak memerlukan kata-kata ini, aku juga bisa belajar memahami dunia.
(Muka surat 60)

Bahasa antusiasme, bahasa orang yang berhasil dalam pekerjaannya yang dia lakukan dengan penuh cinta dan tujuan, juga sebagai bahagian dari pencarian akan sesuatu yang diyakini dan dihasratinya.
(Muka surat 83)

Dia masih agak meragukan keputusan yang telah diambilnya. Tapi satu hal yang dia faham: mengambil keputusan barulah permulaannya. Saat orang mengambil keputusan, bererti dia menceburkan dirinya dalam arus deras yang akan membawanya ke tempat-tempat yang tak pernah dibayangkannya ketika dia pertama-tama mengambil keputusan tersebut.
(Muka surat 90)

Aku sudah belajar banyak hal dari domba-dombaku, juga dari kristal itu, fikirnya. Bererti aku juga bisa belajar sesuatu dari padang pasir ini. Padang ini kelihatan tua dan bijak.
(Muka surat 97)

Tetapi dia merasa senang dengan kemampuannya memahami secara intuitif ucapan si pemandu unta tadi : barangkali dia juga mulai belajar bahasa universal tentang masa lalu dan masa kini semua orang. "Firasat", menurut istilah ibunya. Intuisi sebenarnya adalah peleburan jiwa dengan begitu saja ke dalam arus kehidupan universal, di mana sejarah semua manusia saling terkait, dan kita bisa mengetahui segalanya, sebab segalanya telah tertulis di sana. "Maktub".
(Muka surat 98)

Akan tetapi semua ini terjadi kerana satu alasan mendasar: seberapa sering mereka memutar dan menyesuaikan diri, karavan itu bergerak ke arah titik kompas yang sama. Setelah semua rintangan diatasi, mereka kembali pada jalur semula, berpedoman pada bintang yang menunjukkan lokasi oasis. Saat melihat bintang yang bersinar di langit pada pagi hari, orang-orang tahu bahawa mereka berada pada jalur yang benar, menuju tempat yang ada airnya, pohon-pohon palma, ada tempat berteduh, dan manusia-manusia lain. Hanya si orang Inggeris yang tidak menyedari semua itu; sebab hampir sepanjang waktu dia begitu asyik dengan buku-bukunya sendiri.
(Muka surat 99)

Tapi malapetaka itu telah mengajariku memahami sabda Allah : manusia tidak perlu takut akan hal-hal yang tidak diketahui, kalau mereka sanggup meraih apa yang mereka perlukan dan inginkan.
(Muka surat 101)

Begitulah prinsip yang mengatur segala sesuatu. Dalam alkimia, itu namanya Jiwa Dunia. Kalau kau menginginkan sesuatu sepenuh hatimu, saat itulah kau berada sangat dekat dengan Jiwa Dunia. Dan ini selalu merupakan daya positif.
(Muka surat 103)

Setiap orang punya cara masing-masing untuk mempelajari sesuatu. Cara dia tidak sama dengan caraku, begitu pula sebaliknya. Tapi kami berdua sama-sama sedang mencari takdir kami, dan aku menghormatinya untuk itu.
(Muka surat 110)

Kalau sedang makan, hanya urusan makanlah yang kau fikirkan. Kalau sedang berjalan, aku berkonsentrasi pada urusan berjalan. Kalau aku mesti bertarung, mahu mati hari apa pun tidak ada bezanya bagiku. Sebab aku tidak hidup di masa lalu ataupun di masa depan. Aku hanya tertarik pada saat ini. Berbahagialah orang yang bisa berkonsentrasi hanya untuk saat ini. Akan kaulihat bahawa di gurun ini pun ada kehidupan, di langit sana bintang bersinar-sinar, dan suku-suku berperang kerana mereka bahagian dari umat manusia. Hidup ini akan terasa pesta bagimu, suatu festival meriah, sebab hidup ini adalah saat yang kita jalani sekarang ini.
(Muka surat 111-112)

Ingat, di mana pun hatimu berada, di situlah hartamu berada. Kau harus menemukan harta itu, sehingga segala yang telah kau pelajari sepanjang jalan bisa kau fahami maknanya.
(Muka surat 151)

Sebab yang menahanmu di oasis ini adalah rasa takutmu sendiri, kalau-kalau kau tidak kembali. Dan pada titik itu, petanda-petanda akan menunjukkan padamu bahawa harta karunmu telah terkubur selama-lamanya. |
(Muka surat 156)

Petanda-petanda itu akan meninggalkanmu, kerana kau tidak lagi mendengarkan mereka.
(Muka surat 156)

Kau harus mengerti, cinta tak pernah menghalangi orang mengejar takdirnya. Kalau dia melepaskan impiannya, itu kerana cintanya bukan cinta sejati. Bukan cinta yang berbicara Bahasa Dunia.
(Muka surat 157)

Jangan kata apa pun. Orang dicintai kerana dia memang dicintai. Tak perlu ada alasan untuk mencintai. (Muka surat 159)

Dengarkan suara hatimu. Hatimu tahu segalanya, sebab hatimu berasal dari Jiwa Dunia, dan suatu hari nanti akan kembali ke sana.
(Muka surat 166)

- Sebab di mana hatimu berada, di situlah hartamu berada.
- Tetapi hatiku gelisah. Hatiku menyimpan mimpi-mimpi, menjadi emosional, dan mendambakan seorang wanita gurun. Hatiku meminta banyak hal, dan membuatku tidak bisa tidur bermalam-malam saat aku memikirkan wanita itu.
- Kalau begitu, baguslah. Bererti hatimu hidup. Jangan berhenti mendengarkan suaranya.
(Muka surat 167)

Katakan pada hatimu, rasa takut akan penderitaan justeru lebih menyeksakan daripada penderitaan itu sendiri.
(Muka surat 169)

Setiap detik pencarian adalah pertemuan dengan Tuhan. Ketika aku sungguh-sungguh mencari harta karunku, setiap hari terasa membahagiakan, sebab aku tahu setiap jamnya merupakan bahagian daripada impian menemukan harta itu. Ketika aku sungguh-sungguh mencari harta karunku, sepanjang jalan aku menemukan hal-hal yang takkan pernah kulihat andaikan aku tak punya keberanian untuk mencuba segala sesuatu yang kelihatannya mustahil dicapai seorang anak gembala.
(Muka surat 169-170)

Tuhan bersemayam di dalam diri semua orang yang bahagia. Dan kebahagiaan bisa ditemukan dalam sebutir pasir gurun, seperti dikatakan sang alkemis. Sebab sebutir pasir merupakan bahagian daripada penciptaan , dan alam semesta ini memerlukan waktu jutaan tahun untuk menciptakannya.
(Muka surat 170)

Setiap orang di bumi ini memiliki harta karun yang menanti-nantinya.
(Muka surat 170)

Saat-saat paling gelap di malam hari adalah saat-saat menjelang fajar.
(Muka surat 172)

Mereka lupa bahawa timbal (plumbum), tembaga dan besi punya takdir sendiri untuk dipenuhi. Dan siapa pun yang campur tangan dalam takdir orang lain tidak akan pernah menemukan takdirnya sendiri.
(Muka surat 178)

Sang alkemis menyuruh si anak mendekatkan kerang itu ke telinganya. Dia sudah sering melakukannya ketika masih kecil, dan yang didengarinya adalah suara laut. "Laut itu tetap hidup di dalam kerang ini, sebab demikianlah takdirnya. Dan dia akan terus hidup sampai padang pasir ini kembali tertutup air."
(Muka surat 179)

Di dalam diriku ada angin, padang pasir, samudera, bintang-bintang dan segala ciptaan lainnya di alam semesta. Kita semua diciptakan oleh tangan yang sama, dan kita memiliki jiwa yang sama. Aku ingin jadi seperti engkau, sanggup mencapai setiap sudut dunia, menyeberangi lautan, meniup butir-butir pasir yang menutupi harta karunku, dan membawa suara wanita yang kucintai.
(Muka surat 190)

Dari tempatku bertakhta - jauh dia atas bumi - aku belajar mencintai. Aku tahu, kalau aku terlalu dekat sedikit saja kepada bumi, semua yang ada di sana akan mati, dan Jiwa Dunia takkan ada lagi. Maka kami saling memandang, kami saling mendambakan. Aku memberi kehidupan dan kehangatan kepada bumi, dan bumi memberiku alasan untuk terus hidup.
(Muka surat 193)

Bahawa besi tak perlu sama dengan tembaga atau tembaga sama dengan emas. Masing-masing melakukan fungsinya sendiri sebagai unsur yang unik.
(Muka surat 194)

Memang benar, segala sesuatu memiliki takdirnya masing-masing, tapi suatu hari nanti takdir itu akan terwujud. Maka masing-masing ciptaan harus bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih baik, dan mencapai takdir yang baru, hingga suatu hari kelak Jiwa Dunia menjadi satu kesatuan yang utuh.
(Muka surat 194)

Untuk itulah alkimia ada. Agar setiap orang mencari harta karunnya sendiri, menemukannya, dan timbul keinginan untuk menjadi orang yang lebih baik daripada dalam kehidupan sebelumnya. Timah akan menjalankan peranannya sampai dunia tidak lagi memerlukan timah; setelah itu timah harus mengubah dirinya menjadi emas. Itulah yang dilakukan para alkemis. Mereka menunjukkan bahawa kalau kita berusaha menjadi lebih baik, segala sesuatu di sekitar kita akan ikut menjadi lebih baik.
(Muka surat 194-195)

Apa yang terjadi satu kali tidak bakal terjadi lagi. Tapi apa yang terjadi dua kali, pasti akan terjadi untuk ketiga kali.
(Muka surat 202)

Setiap orang di dunia ini, apa pun pekerjaannya, memainkan peranan penting dalam sejarah dunia. Dan biasanya orang itu sendiri tidak menyedarinya.
(Muka surat 205)


Related Articles

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.